Minggu, 03 Mei 2026

๐ค๐ž๐ง๐š๐ฉ๐š ๐ ๐ž๐ง ๐ณ ๐ญ๐š๐ค๐ฎ๐ญ ๐ง๐ข๐ค๐š๐ก?

beberapa point yang sering di ucapkan dari banyaknya suara gen z,

  • ‌trauma akan kegagalan yg terjadi di ortu/saudara dan lingkungan (perselingkuhan, penceraian,kdrt, pembunuhan dll).
  • ‌ takut akan hal buruk tsb menimpa ke dirinya.
  • ‌in this economy semua hal itu sulit.
  • ‌tidak ada privilege dari ortu.
  • ‌kurangnya ilmu terkait pernikahan.



ada 1 postingan di instagram tentang keluarga yang lagi makan, ibunya ambil topik soal pernikahan. 

ibu : "kenapa gen z begitu takut dgn pernikahan ya?" 

anak: "karna melihat ortunya sendiri tdk bisa menjadi teladan dan contoh-" 

ibu: "ya oke tapi kan itu berarti kepribadian nya kan buka pernikahannya, tapi ke masing2 pribadi-" 

anak: "nggak, karna in this economy untuk nafkahin diri sendiri aja susah, apalagi harus nafkahin istri dan anak-" 

ibu: "itu kan artinya lebih ke personal nya, jdi tidak bisa menyalahkan pernikahannya, personal nya yg blm bisa komitmen dalam pernikahan." 

anak: "ya tapi kan gabisa sembarang nikah, semua harus di pikirkan." 

source by Instagram

pas aku baca komen, disana komenan gen z mendominasi untuk menyetujui statement si anak bahwa trauma dari ortu soal pernikahan itu sangat mempengaruhi. ada juga yg bilang bahwa mereka cape debat sama kaum milenial karna mereka gaakan ngerti kondisi para gen z, padahal yang ibu nya katakan pun ada benar nya, semua itu tergantung persepsi dan tingkah laku individu bukan karna pernikahan nya. tapi yang perlu di garis bawahi dari persoalan ini adalah "anak belajar dari perilaku ortu nya, sebagian besar anak mengetahui dan memahami pernikahan itu dari apa yang kita lihat di rumah dan di lingkungan setiap harinya." 

kita sebagai gen z pasti mau yg terbaik gasi buat masa depan? kita harus bisa memberikan pendidikan yang layak untuk anak, harus bisa memberikan ilmu dan contoh yg baik mulai sejak dini, dan yg lebih penting memutus rantai kemiskinan yg lagi marak di Indonesia. ketakutan kita bukan lah khayalan, ketakutan kita terjadi karna banyak nya hal2 di point atas yang terjadi di sekitar kita, bahkan di tv pun memilih untuk menyiarkan konflik rumah tangga artis yg dimana seharusnya tidak perlu kita ketahui ๐Ÿ˜”.


disini aku rangkum beberapa hal yg perlu di perhatikan untuk menjadi pertimbangan kalian kedepannya,

  • ‌jgn jadikan trauma/kesalahan org lain akan terjadi juga ke kalian, jadikan itu pelajaran untuk dipelajari dan dicari solusinya. kalau kalian gamau hal itu terjadi ya kalian pelajari hal itu dan "terapkan".
  • ‌semua zaman pasti sulit, kalaupun kita lahir di zaman milenial pun pasti sulit karna banyaknya keterbatasan. disini kita hidup selalu berdampingan dgn pilihan, kalau kamu mau menjadi baik ya pilih yang baik pun sebaliknya.
  • ‌pernikahan itu bagaikan wadah, yg keliatan baik maka individu nya baik kalau tidak baik berarti individu nya yg tidak baik. catat yaa, individu yg menentukan baik atau tidak nya bukan pernikahan. 
  • ‌mulai ganti kata2 gamau nikah dengan belum siap nikah, karna itu 2 kata yg memiliki perbedaan yang sangat amat berbeda. kalau gamau nikah itu tandanya kalian menentang syariat, tapi kalau belum siap itu artinya kalian akan menikah dgn syarat mempersiapkan diri terlebih dahulu.
  • ‌ketika kalian bisa melihat hal buruk di pernikahan seharusnya kalian juga bisa melihat hal baik di pernikahan. semua pun tergantung kalian berfikir soal hal baik atau hal buruk, catat yaa hidup kamu di pengaruhi oleh fikiran yang kamu fikir di setiap harinya.
  • ‌ketika kamu kurang privilege dari ortu, kamu harus coba keluar dari zona itu dan mulai berani untuk mempelajari hal baru apalagi berkaitan dengan diri kamu sendiri. berusaha untuk diri sendiri itu baik kok, selain diri kamu ter-upgrade km juga dapet pahala. tidak semua org yg ber-privilege bisa dan mau ngelakuin hal itu, balik lagi ke pembahasan sebelumnya "hidup itu selalu berdampingan dgn pilihan."  
  • ‌nah ini yang paling berdampak banget buat kedepannya, yaitu ilmu. byk dari kalian yang berfikiran seperti itu karna kurangnya ilmu yang kalian ketahui, semakin kalian paham semakin kalian yakin kalau kita tuh sebenernya gapapa nikah asal sudah siap secara mental, finansial dll, di umur berapapun. ga mesti di umur 25 kok, kalau dirasa kalian sudah bisa menghidupi diri sendiri dan yakin untuk mengajak org lain ke hidup kalian itu tandanya kalian sudah siap untuk menikah. dan ilmu yang paling penting itu adalah ilmu parenting, ini wajib bgt untuk di pelajari dan di terapkan supaya tidak ada terjadinya kesalahan yang ortu kita lakukan kepada kita di masa lalu. sedih kalau di inget... but life goes on guys.
  • tidak perlu di paksakan, omongan ortu/saudara/tetangga gausah di pikirin. kehidupan ku ya aku yang mengerti, susah dan senang aku yang menjalani. toh hidup cuma sekali, kalau tidak diizinkan nikah di dunia maka akan nikah di surga kelak. jadi jangan takut ๐ŸŒท


sejujurnya aku pun takut untuk hal ini, aku pernah bilang ke beberapa ortu terdekat bahwa "aku gamau nikah" dan jawaban mereka tetap sama, "Tuhan menciptakan berpasang-pasangan, ada wanita ada pria, ada siang ada malam, ada jantan ada betina dst. yang memang jalannya seperti itu, kalau kamu gamau nikah tandanya kamu ga percaya sama apa yang Tuhan berikan." kurang lebih seperti itu jawaban dari mereka. setelah aku pahami dan aku belajar dari berbagai sosmed bahkan sampai ikut nonton podcast ust. Hanan Attaki, aku menjadi tau dan bisa melihat beberapa sisi yang memang tidak di terapkan pada ortu kita saat kita bayi, remaja dan bahkan dewasa ini.

tapi guys menurut ku ini bukan sepenuhnya salah orang tua kok, kalau kalian punya pemikiran bahwa aku baru pertama kali hidup di dunia, ya begitupun orang tua kita baru pertama kali jadi orang tua di dunia, ibu ayah kita juga dulunya jadi anak dari pasangan orang tua yang baru pertama kali jadi orang tua di dunia, salah dan benar nya harus bisa di terima. tapi ini bukan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi tentang siapa yang bisa belajar dari kesalahan dan buat menjadi lebih baik untuk kedepannya. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

๐ค๐ž๐ง๐š๐ฉ๐š ๐ ๐ž๐ง ๐ณ ๐ญ๐š๐ค๐ฎ๐ญ ๐ง๐ข๐ค๐š๐ก?

beberapa point yang sering di ucapkan dari banyaknya suara gen z, ‌trauma akan kegagalan yg terjadi di ortu/saudara dan lingkungan (perselin...